Tongging punya modal wisata yang hampir membuat siapa pun iri. Desa di tepian Danau Toba ini memiliki panorama kaldera, Air Terjun Sipiso-piso, pertanian, perikanan, kuliner, seni tari, hingga aktivitas petualangan.
Namun, destinasi yang indah belum tentu otomatis memberi manfaat besar kepada masyarakat yang tinggal di dalamnya. Di sinilah konsep Community Based Tourism di Desa Tongging menjadi menarik.
Community Based Tourism atau CBT pada dasarnya menempatkan masyarakat lokal sebagai bagian utama dalam perencanaan, pengelolaan, dan penyediaan layanan wisata.
ASEAN menjelaskan bahwa CBT memberi kesempatan kepada komunitas untuk ikut merencanakan, mengelola, dan mengoperasikan produk wisata sekaligus memperoleh manfaat ekonomi secara lebih adil.
Di Tongging, arahnya mulai terlihat melalui Pokdarwis, keterlibatan pemuda, Sanggar Tari Gisitales, pengembangan UMKM, homestay, pemandu lokal, serta promosi digital yang dikelola bersama masyarakat.
Tongging memang masih dikategorikan sebagai Desa Wisata Rintisan di Jadesta. Justru karena itulah proses membangun pariwisata berbasis warga menjadi penting untuk diperhatikan.
Apa Itu Community Based Tourism?
Community Based Tourism tidak sama dengan sekadar membuka objek wisata di sebuah desa.
Dalam konsep CBT, masyarakat lokal tidak ditempatkan hanya sebagai penonton ketika investor, pemerintah, atau perusahaan pariwisata menjalankan bisnis.
Warga justru mempunyai ruang untuk menentukan produk wisata apa yang akan ditawarkan, bagaimana lingkungan dijaga, serta bagaimana manfaat ekonomi didistribusikan.
Pendekatannya bisa berbentuk homestay milik warga, pemandu lokal, produk UMKM, wisata pertanian, pertunjukan budaya, kuliner rumahan, maupun pengalaman belajar kehidupan desa.
ASEAN CBT Standard juga menekankan perlindungan sumber daya alam dan budaya serta pembagian manfaat yang lebih adil kepada masyarakat.
Kalau diterapkan di Tongging, prinsipnya sederhana: orang datang karena Danau Toba dan Sipiso-piso, tetapi uang yang mereka keluarkan sebisa mungkin ikut menghidupi warga Tongging.
Pokdarwis Menjadi Salah Satu Penggerak Wisata Tongging
Salah satu tanda paling jelas keterlibatan masyarakat dapat dilihat dari keberadaan Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis.
Pada 2023, perwakilan Desa Tongging, Winda Purnama Sari, menjelaskan bahwa para pemuda desa semakin terdorong meningkatkan ekonomi melalui pariwisata setelah Pokdarwis terbentuk.
Proses tersebut juga memperoleh dukungan melalui Kampanye Sadar Wisata 5.0 dan pelatihan Kemenparekraf.
Peran kelompok seperti ini penting karena pengembangan wisata desa membutuhkan organisasi.
Ada yang memikirkan atraksi, ada yang menangani promosi, ada yang menghubungkan pelaku usaha, sementara pihak lain fokus pada kebersihan atau pelayanan wisatawan.
Penelitian promosi Desa Wisata Tongging pada 2026 bahkan melibatkan perangkat desa dan anggota Pokdarwis untuk mengembangkan kembali promosi digital destinasi.
Artinya, warga mulai bergerak dari sekadar “tinggal di daerah wisata” menuju posisi sebagai pihak yang ikut mengelolanya.
Pemuda dan Sanggar Tari Gisitales Membawa Budaya ke Pariwisata
CBT akan kehilangan maknanya jika desa hanya menjual pemandangan.
Budaya lokal justru dapat menjadi bagian penting dari pengalaman wisata, dan Tongging memiliki contoh menarik melalui Sanggar Tari Gisitales.
Sanggar tersebut terbentuk pada 2022 setelah masyarakat memperoleh pelatihan terkait pengembangan desa wisata. Gisitales menjadi wadah anak muda untuk mengangkat seni dan budaya Tongging, serta kemudian terlibat dalam kegiatan seperti Karo Music Camp.
Model seperti ini memberi manfaat ganda.
Anak muda mempunyai ruang berkreativitas sekaligus alasan untuk mempelajari kembali budaya lokal. Wisatawan pun mendapatkan pengalaman yang tidak bisa diperoleh hanya dengan berdiri di gardu pandang.
Kalau dikembangkan lebih jauh, pertunjukan bisa dilengkapi cerita tentang tari, workshop gerakan dasar, pengenalan pakaian tradisional, atau paket wisata budaya.
Yang penting, masyarakat sendiri tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana kebudayaan mereka ditampilkan.
Petani Tidak Harus Berhenti Bertani untuk Ikut Pariwisata
Salah satu kekuatan CBT adalah masyarakat tidak harus mengganti seluruh pekerjaan mereka menjadi pekerjaan wisata.
Petani Tongging tetap bisa menanam bawang merah. Nelayan dan pembudidaya ikan tetap bekerja di Danau Toba. Namun aktivitas tersebut dapat memperoleh nilai tambahan ketika terhubung dengan wisata.
Penelitian terbaru tentang Tongging mencatat bahwa sebagian besar masyarakat masih bergantung pada sektor pertanian, sehingga sektor wisata belum menjadi prioritas utama ekonomi lokal.
Justru kondisi ini bisa menjadi modal.
Wisatawan dapat diajak mengenal kebun bawang, melihat aktivitas pertanian, membeli produk langsung, kemudian mencicipi hasilnya di restoran lokal. Dengan begitu, kehidupan asli desa tidak perlu diubah menjadi sesuatu yang dibuat-buat.
Program pemberdayaan masyarakat Tongging pada 2025 juga secara khusus mengembangkan inovasi produk UMKM berbasis bawang merah, termasuk diversifikasi produk, kemasan, dan branding.
Jadesta sendiri telah mencatat Bawang Goreng Naraja sebagai salah satu suvenir terverifikasi Desa Wisata Tongging.
Dari kebun menuju oleh-oleh, nilai ekonomi komoditas lokal pun bisa menjadi lebih panjang.
Homestay Membuat Manfaat Wisata Masuk Langsung ke Rumah Warga
Akomodasi adalah bagian lain yang cocok dikembangkan melalui pendekatan berbasis masyarakat.
Alih-alih seluruh wisatawan menginap di hotel besar di luar desa, sebagian dapat memilih homestay yang dikelola keluarga lokal.
Program pemberdayaan Tongging pada 2025 memasukkan digitalisasi promosi homestay sebagai salah satu fokus utama. Warga mendapat pendampingan dalam penggunaan media sosial, pembuatan konten, serta pemanfaatan platform pemasaran daring.
Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan harga kamar.
Ketika menginap di rumah warga, wisatawan berpotensi membeli sarapan, menyewa jasa transportasi lokal, meminta pemandu, membeli oleh-oleh, atau mengikuti kegiatan desa.
Satu malam menginap akhirnya bisa menggerakkan beberapa usaha kecil sekaligus.
Bahkan pengalaman tinggal bersama warga bisa menjadi produk wisata tersendiri. Wisatawan tidak cuma melihat Tongging dari luar, tetapi merasakan bagaimana pagi dimulai di desa tepian Danau Toba.
Pemandu Lokal Bisa Membuat Wisata Lebih Bermakna
Pemandangan Sipiso-piso memang bisa dinikmati tanpa penjelasan panjang. Namun pengalaman berubah ketika seseorang menjelaskan bagaimana kaldera terbentuk, sejarah desa, budaya masyarakat, atau hubungan penduduk dengan Danau Toba.
Karena itu, pemandu lokal menjadi bagian penting CBT.
Program pendampingan pada 2025 di Geosite Sipisopiso–Tongging secara khusus melatih warga menjadi pemandu wisata edukasi. Materinya mencakup sejarah geologi, komunikasi, teknik pemanduan profesional, hingga prinsip pariwisata berkelanjutan.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya antusiasme masyarakat dan munculnya gagasan pengembangan rute wisata edukasi berbasis geologi, ekologi, dan kebudayaan.
Ini menarik karena pengetahuan lokal akhirnya memperoleh nilai ekonomi.
Seorang warga yang memahami cerita kampung tidak lagi sekadar menjadi orang yang menunjukkan arah. Ia bisa menjadi interpreter yang membuat wisatawan memahami apa yang sedang mereka lihat.
Semakin kuat kemampuan pemandu lokal, semakin sedikit pula kebutuhan mendatangkan tenaga dari luar untuk pekerjaan yang sebenarnya dapat dilakukan masyarakat.
Promosi Digital Mulai Dikelola Bersama
Pariwisata berbasis masyarakat juga harus bisa ditemukan oleh wisatawan.
Pada era digital, mempunyai objek bagus saja tidak cukup. Informasi tentang atraksi, harga, kontak, penginapan, dan aktivitas harus mudah ditemukan.
Penelitian yang diterbitkan pada Januari 2026 mengkaji pengembangan promosi Desa Wisata Tongging melalui aktivasi kembali Instagram, pembuatan video Reels, website desa, subtitle bahasa Inggris, hingga papan informasi berbasis QR code.
Prosesnya melibatkan pengelola wisata dan Pokdarwis setempat.
Hasil intervensi tersebut cukup menarik. Rata-rata tayangan Reels meningkat dari sekitar 1.702 menjadi 3.902, sementara salah satu konten mencapai 9.558 tayangan.
Promosi digital seperti ini penting karena memungkinkan masyarakat menceritakan desanya sendiri.
Kontennya dapat menampilkan pemilik homestay, petani, pelaku UMKM, penari, pemandu, atau pengelola atraksi, bukan hanya video panorama yang tidak menjelaskan siapa yang hidup di balik destinasi tersebut.
Manfaat CBT Bisa Menyebar ke Banyak Pelaku
Bayangkan satu wisatawan menghabiskan dua hari di Tongging.
Ia menginap di homestay milik warga, sarapan dari dapur lokal, menggunakan jasa pemandu, berkunjung ke kebun, membeli bawang goreng, makan ikan di restoran, menonton pertunjukan tari, lalu menyewa transportasi lokal.
Satu perjalanan memberi pendapatan kepada banyak orang.
Inilah salah satu tujuan penting community based tourism: membuat manfaat tidak hanya berhenti pada pemilik satu objek wisata.
Pendekatan pemberdayaan yang dilakukan di Tongging juga mengarah ke model tersebut dengan menggabungkan atraksi wisata, UMKM, pelayanan wisata, homestay, dan pemasaran digital.
Namun hal ini tidak terjadi otomatis.
Desa membutuhkan pembagian peran yang jelas, transparansi pengelolan, kerja sama antarwarga, kualitas pelayanan, serta mekanisme agar pelaku usaha kecil ikut memperoleh kesempatan.
Kalau hanya segelintir orang menikmati keuntungan sementara sebagian besar warga menjadi penonton, konsep CBT kehilangan tujuan dasarnya.
Tantangan Tongging: Promosi, Budaya, dan Lingkungan
Tongging masih mempunyai pekerjaan rumah cukup besar.
Penelitian Universitas Sumatera Utara yang diterbitkan pada 2026 dan melibatkan wawancara dengan masyarakat lokal serta pemerintah menemukan beberapa persoalan utama dalam pengembangan wisata berkelanjutan.
Tantangan tersebut mencakup kurangnya promosi, pelestarian budaya yang masih perlu diperkuat, serta kualitas lingkungan yang dinilai belum berkelanjutan.
Jadesta juga masih menempatkan Tongging pada kategori Desa Wisata Rintisan, meskipun desa ini berhasil masuk 500 Besar ADWI 2024.
Status tersebut menggambarkan bahwa potensinya besar, tetapi pengembangan kelembagaan dan produknya masih mempunyai ruang panjang untuk berkembang.
Lingkungan menjadi isu yang sangat penting.
Danau, lahan pertanian, perbukitan, dan geosite adalah modal pariwisata. Kalau sampah meningkat, kualitas air memburuk, atau pembangunan tidak terkendali, daya tarik yang menjadi fondasi ekonomi desa justru bisa rusak.
Karena itu, CBT di Tongging tidak cukup hanya mengejar lebih banyak pengunjung.
Tujuannya seharusnya mendapatkan wisatawan yang memberikan nilai ekonomi lebih baik sekaligus menjaga lingkungan dan menghormati kehidupan masarakat.
Seperti Apa Community Based Tourism Tongging yang Ideal?
Tongging sebenarnya tidak perlu meniru desa wisata lain secara mentah.
Karakter terbesarnya justru berada pada kombinasi Danau Toba, pertanian, perikanan, budaya, geologi, dan kehidupan masyarakat.
Paket wisata bisa dibuat berdasarkan kehidupan tersebut.
Pengunjung dapat memulai pagi dengan berjalan bersama petani, belajar tentang geologi Sipiso-piso bersama pemandu lokal, makan ikan hasil perairan sekitar, melihat kegiatan Sanggar Gisitales, membeli produk UMKM, lalu bermalam di homestay milik warga.
Model seperti ini membuat wisatawan tinggal lebih lama tanpa harus menambah banyak wahana buatan.
Penelitian tentang penataan Desa Tongging juga telah merekomendasikan konsep pariwisata berkelanjutan yang tetap menjaga skala perdesaan, kegiatan masyarakat lokal, keaslian, serta konservasi alam dan budaya.
Jadi, kekuatan Tongging sebenarnya sudah tersedia.
Yang dibutuhkan adalah menghubungkannya.
Kesimpulan
Community Based Tourism di Desa Tongging memberi peluang agar perkembangan wisata Danau Toba benar-benar membawa manfaat kepada masyarakat yang hidup di dalam desa.
Tanda-tandanya mulai terlihat melalui Pokdarwis, Sanggar Tari Gisitales, pemandu lokal, UMKM bawang merah, homestay, serta promosi digital yang melibatkan warga.
Namun Tongging masih berada pada tahap rintisan. Tantangan promosi, regenerasi, pelestarian budaya, kualitas lingkungan, dan kapasitas pengelola perlu terus dibenahi.
Bagi wisatawan, mendukung CBT sebenarnya sederhana. Menginaplah di homestay lokal, gunakan pemandu warga, beli produk UMKM, makan di usaha lokal, dan hormati lingkungan desa.
Dengan cara itu, perjalanan ke Tongging tidak hanya menghasilkan foto indah, tetapi juga ikut memberi manfaat bagi orang-orang yang menjaga destinasi tersebut setiap hari.
FAQ
1. Apa itu Community Based Tourism?
Community Based Tourism adalah pendekatan pariwisata yang memberi masyarakat lokal kesempatan terlibat dalam perencanaan, pengelolaan, dan operasional produk wisata sekaligus memperoleh manfaat ekonomi secara lebih adil.
2. Apakah Tongging sudah menerapkan Community Based Tourism?
Sejumlah praktiknya sudah terlihat, seperti Pokdarwis, keterlibtan pemuda, sanggar tari, pemandu lokal, UMKM, homestay, dan promosi yang melibatkan masyarakat. Namun Tongging masih dikategorikan sebagai Desa Wisata Rintisan.
3. Apa peran Pokdarwis di Tongging?
Pokdarwis menjadi salah satu penggerak masyarakat dalam pengembangan pariwisata. Keterlibatan pemuda melalui kelompok ini ikut mendorong munculnya kegiatan budaya dan promosi desa wisata.
4. Bagaimana wisatawan bisa mendukung masyarakat Tongging?
Wisatawan dapat memilih homestay lokal, menggunakan jasa pemandu desa, membeli produk UMKM, menikmati kuliner lokal, mengikuti atraksi budaya, dan menjaga kebersihan lingkungan.
5. Apa tantangan pengembangan wisata berbasis masyarakat di Tongging?
Tantangannya meliputi promosi, pelestarian budaya, kualitas lingkungan, peningkatan kapasitas SDM, serta kebutuhan membangun pengelolan wisata yang konsisten dan berkelanjutan.