Mengenal Sanggar Tari Gisitales Tongging dan Perannya bagi Budaya Lokal

Tongging biasanya membuat orang jatuh hati lewat pemandangan Danau Toba. Perbukitan yang mengelilingi desa, udara sejuk, ladang pertanian, dan aktivitas masyarakat di tepian danau membuat kawasan ini punya daya tarik alam yang kuat.

Namun, Tongging ternyata tidak hanya menawarkan panorama. Di tengah perkembangan Desa Wisata Tongging, muncul sebuah ruang kreatif bernama Sanggar Tari Gisitales Tongging.

Sanggar ini menjadi tempat anak-anak muda mengenal, mempelajari, sekaligus menampilkan tarian daerah. Menariknya, pertunjukan Gisitales tidak hanya berfokus pada satu kebudayaan, tetapi memperkenalkan unsur tari Karo, Toba, dan Simalungun.

Keberadaan Gisitales juga berkaitan dengan pengembangan pariwisata berbasis masyarakat. Sanggar ini lahir pada 2022 setelah warga dan penggerak wisata Tongging memperoleh pelatihan melalui program Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Dari sini, Gisitales menjadi contoh menarik bahwa wisata desa tidak harus selalu dimulai dari membangun objek baru. Kadang, potensi terbaik justru sudah berada di tengah masyarakat: budaya, anak muda, dan kreativitas lokal.

Apa Itu Sanggar Tari Gisitales Tongging?

Sanggar Tari Gisitales adalah salah satu atraksi budaya yang berada di Desa Wisata Tongging, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Dalam Jejaring Desa Wisata atau Jadesta milik Kementerian Pariwisata, Gisitales tercatat sebagai atraksi yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal berbagai tarian daerah.

Sanggar ini melibatkan pelajar muda sebagai penari. Mereka menampilkan tarian yang berasal dari tradisi Karo, Toba, dan Simalungun, tiga lingkungan budaya yang memang memiliki hubungan geografis dan sosial dengan kawasan sekitar Danau Toba.

Hal tersebut membuat Gisitales mempunyai karakter yang cukup berbeda.

Alih-alih hanya mempertontonkan tari sebagai hiburan, sanggar menjadi ruang pertemuan budaya. Wisatawan dapat melihat bahwa Tongging berada di kawasan dengan identitas yang berlapis, bukan desa yang terisolasi dari masyarakat di sekeliling Danau Toba.

Jadesta bahkan menyebut pengunjung dapat ikut belajar bersama para penari Gisitales. Artinya, pengalaman yang ditawarkan berpotensi lebih interaktif daripada sekadar duduk menyaksikan pertunjukan.

Gisitales Lahir dari Semangat Pemuda Tongging

Cerita terbentuknya Gisitales cukup menarik karena berhubungan langsung dengan perkembangan desa wisata.

Pada Maret 2023, ANTARA melaporkan penjelasan Winda Purnama Sari, perwakilan Desa Tongging, dalam Biannual Tourism Forum yang digelar di Kabupaten Simalungun.

Ia menjelaskan bahwa para pemuda Tongging semakin terdorong ikut meningkatkan perekonomian desa melalui sektor pariwisata setelah terbentuknya Kelompok Sadar Wisata atau Pokdarwis.

Dari proses tersebut, Gisitales lahir pada 2022.

Menurut Winda, pelatihan dari Kemenparekraf mendorong Desa Wisata Tongging membentuk Gisitales sebagai wadah sanggar tari yang mengangkat budaya khas Tongging.

Jadi, Gisitales bukan hanya kelompok tari yang muncul untuk mengisi sebuah acara.

Keberadaannya menjadi bagian dari upaya masyarakat mengenali kembali aset budaya yang mereka miliki, kemudian mengubahnya menjadi pengalaman wisata yang bisa dinikmati pengunjung.

Model seperti ini cukup penting bagi desa wisata. Ketika anak muda ikut terlibat, budaya tidak berhenti menjadi cerita generasi sebelumnya, tetapi memperoleh pelaku baru yang meneruskannya.

Membawa Tiga Warna Budaya dalam Pertunjukan

Salah satu hal paling menarik dari Sanggar Tari Gisitales Tongging adalah keragaman materi tari yang diperkenalkan.

Profil resmi atraksi di Jadesta menyebut para pelajar muda Gisitales menampilkan tarian khas Batak Toba, Karo, dan Simalungun.

Pilihan tersebut terasa cukup masuk akal jika melihat posisi Tongging.

Desa ini berada di Kabupaten Karo dan menghadap langsung ke kawasan Danau Toba. Di sekitar danau terdapat komunitas dengan latar budaya berbeda yang selama bertahun-tahun berinteraksi melalui perdagangan, perkawinan, pekerjaan, hingga kehidupan sehari-hari.

Karena itu, panggung Gisitales dapat dibaca sebagai gambaran kecil tentang keragaman kawasan tersebut.

Bagi pengunjung, pertunjukan seperti ini memberi kesempatan melihat perbedaan gerak, musik, busana, dan ekspresi dari beberapa tradisi tanpa harus menganggap semuanya sebagai satu budaya yang sama.

Justru perbedaannya itulah yang menarik.

Dari Tempat Latihan Menjadi Atraksi Wisata Budaya

Sanggar tari pada dasarnya berfungsi sebagai tempat belajar dan berlatih. Namun ketika sebuah desa berkembang menjadi destinasi wisata, fungsi tersebut bisa bertambah.

Jadesta menempatkan Gisitales sebagai salah satu atraksi Desa Wisata Tongging. Pengunjung tidak hanya dapat menyaksikan pertunjukan, tetapi juga disebut dapat belajar bersama penari sanggar.

Konsep seperti ini membuat budaya menjadi pengalaman langsung.

Bayangkan setelah seharian menikmati panorama Danau Toba, wisatawan datang melihat latihan anak muda Tongging. Mereka tidak cuma memotret penari, tetapi bisa mengenal cerita di balik gerakan dan mencoba beberapa gerak sederhana.

Pengalaman semacam itu sering lebih mudah diingat daripada sekadar melihat objek wisata.

Bagi masyarakat, keuntungan lainnya adalah muncul peluang agar waktu dan keterampilan para pelaku seni memiliki nilai ekonomi. Pertunjukan, paket wisata budaya, pelatihan singkat, hingga kolaborasi acara dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem pariwisata desa.

Tentunya, pengembangan tersebut tetap perlu menjaga agar seni lokal tidak sekadar menjadi tontonan cepat demi wisatawan.

Gisitales dan Karo Music Camp

Eksistensi Gisitales mulai terlihat melalui keterlibatannya dalam berbagai kegiatan.

Pada 2023, Winda Purnama Sari menjelaskan bahwa sejak terbentuk pada 2022, Desa Tongging telah dua kali menjadi tuan rumah kegiatan nasional Karo Music Camp. Gisitales menjadi salah satu bagian dari perkembangan kegiatan budaya dan pariwisata tersebut.

Jejak penampilannya juga terlihat dalam Karo Music Camp 3.0 pada November 2023.

Media lokal Karo Daily melaporkan bahwa pada hari pertama acara tersebut terdapat penampilan Jacky Raju bersama Sanggar Tari Gisitales. Acara itu turut menghadirkan sejumlah musisi lain dan diselenggarakan bertepatan dengan rangkaian Aquabike Jetski World Championship 2023.

Akun Desa Wisata Tongging juga pernah mempromosikan penampilan Gisitales di Karo Music Camp yang berlangsung di kawasan Pantai Sinalsal Tongging.

Bagi sebuah sanggar yang relatif muda, tampil dalam kegiatan semacam ini penting.

Panggung acara memberikan pengalaman kepada penari, memperkenalkan nama sanggar kepada pengunjung, sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda Tongging mampu menjadi bagian dari wajah pariwisata daerah.

Ruang Belajar bagi Generasi Muda

Bagian paling penting dari sebuah sanggar sebenarnya tidak selalu terlihat ketika pertunjukan dimulai.

Di balik beberapa menit tarian terdapat proses latihan yang panjang. Penari harus belajar koordinasi gerakan, ritme, ekspresi, disiplin, dan cara bekerja bersama kelompok.

Karena Gisitales banyak melibatkan pelajar muda, fungsinya sebagai ruang belajar menjadi sangat relevan. Jadesta secara khusus menggambarkan sanggar sebagai wadah kreatifitas seni dan tempat masyarakat mengenal lebih dekat tarian khas daerah.

Di sinilah dampak jangka panjangnya bisa terasa.

Anak muda yang terlibat tidak harus semuanya menjadi penari profesional. Tetapi pengalaman mempelajari seni daerah membantu mereka memahami bahwa budaya kampung mereka punya nilai.

Bahkan keterampilan lain bisa tumbuh dari ekosistem tersebut: mengelola acara, menjadi pemandu wisata, membuat kostum, dokumentasi pertunjukan, mengatur media sosial, hingga membangun paket wisata.

Artinya, satu sanggar kecil dapat membuka cukup banyak ruang aktifitas kreatif.

Membuat Wisata Tongging Tidak Hanya Tentang Pemandangan

Tongging mempunyai modal wisata alam yang sangat kuat. Lokasinya berada di kawasan Danau Toba, sementara objek dan kegiatan wisata di sekitarnya mencakup pantai, olahraga luar ruang, kuliner, hingga panorama perbukitan.

Jadesta mencatat Desa Wisata Tongging sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Karo. Namun mengandalkan pemandangan saja memiliki keterbatasan.

Gunung, danau, dan matahari terbenam bisa difoto dalam hitungan menit. Budaya memberikan alasan bagi pengunjung untuk tinggal lebih lama dan mengenal masyarakat.

Di sinilah Gisitales bisa memiliki posisi penting.

Sanggar dapat menjadi jembatan antara wisatawan dan kehidupan lokal. Pertunjukan tari dapat dikombinasikan dengan cerita tentang Tongging, kuliner, kunjungan ke ladang, pengalaman di tepian Danau Toba, atau kegiatan budaya lainnya.

Dengan pendekatan tersebut, manfaat pariwisata berpotensi menyebar kepada lebih banyak warga, bukan hanya pemilik tempat wisata.

Yang tidak kalah penting, masyarakat menjadi subjek yang menceritakan identitasnya sendiri.

Tantangan Menjaga Sanggar Tetap Hidup

Membangun sanggar mungkin bisa dimulai dengan semangat. Menjaganya aktif selama bertahun-tahun jauh lebih sulit.

Regenerasi penari menjadi tantangan pertama. Pelajar yang sekarang aktif suatu hari akan melanjutkan pendidikan, bekerja, atau pindah ke daerah lain. Karena itu, perlu selalu ada generasi baru yang tertarik bergabung.

Tantangan lainnya adalah frekuensi pertunjukan.

Semakin sering ada ruang tampil, semakin besar motivasi untuk berlatih. Event desa, penyambutan wisatawan, festival, kegiatan sekolah, dan kolaborasi dengan pelaku wisata dapat membantu menciptakan panggung tersebut.

Promosi digital juga tidak kalah penting. Jejak media sosial Desa Wisata Tongging menunjukkan bahwa penampilan Gisitales telah digunakan untuk mempromosikan kegiatan wisata dan budaya setempat.

Jika dokumentasi pertunjukan dilakukan secara konsisten, orang yang awalnya mencari pemandangan Tongging bisa menemukan alasan lain untuk datang: melihat keseniannya.

Pengalaman yang Bisa Dicari Wisatawan

Bagi wisatawan yang tertarik mengenal Gisitales, pendekatan terbaik bukan hanya mencari jadwal pertunjukan.

Coba cari kesempatan untuk melihat prosesnya.

Profil atraksi Jadesta menyebut adanya kesempatan bagi pengunjung untuk menyaksikan sekaligus belajar bersama penari. Situs tersebut juga mencantumkan fasilitas terkait kesenian dan budaya, tempat makan, kamar mandi umum, serta persewaan alat pada salah satu halaman atraksi Gisitales.

Saat ini terdapat lebih dari satu halaman Gisitales di Jadesta dengan informasi fasilitas dan harga yang berbeda, sehingga jadwal maupun biaya pertunjukan sebaiknya dikonfirmasi langsung kepada pengelola Desa Wisata Tongging sebelum datang.

Ini penting, terutama karena sanggar lokal tidak selalu bekerja seperti pertunjukan komersial dengan jadwal tetap setiap hari.

Sedikit perencanaan justru dapat menghasilkan pengalaman yang jauh lebih menarik.

Sanggar Tari Gisitales Tongging menunjukkan bagaimana generasi muda dapat mengambil peran dalam menjaga budaya sekaligus mengembangkan pariwisata desa.

Dibentuk pada 2022 setelah proses pelatihan dan penguatan desa wisata, Gisitales berkembang sebagai wadah yang memperkenalkan tarian Karo, Toba, dan Simalungun serta pernah tampil dalam kegiatan seperti Karo Music Camp.

Nilai Gisitales bukan hanya pada penampilanya di atas panggung. Sanggar ini juga membuka ruang belajar, memperkuat kebersaman anak muda, dan membuat pengalaman wisata Tongging lebih kaya daripada sekadar menikmati panorama Danau Toba.

Kalau berkunjung ke Tongging, coba cari informasi mengenai jadwal latihan atau pertunjukan Gisitales. Menonton anak muda setempat membawa kembali tarian daerah bisa menjadi salah satu cara paling menyenangkan untuk mengenal sisi lain desa ini.

FAQ

1. Apa itu Sanggar Tari Gisitales?

Gisitales adalah sanggar tari di Desa Wisata Tongging, Kabupaten Karo, yang menjadi wadah kreativitas seni dan melibatkan pelajar muda dalam pertunjukan tari daerah.

2. Kapan Sanggar Tari Gisitales dibentuk?

Gisitales terbentuk pada 2022 sebagai bagian dari pengembangan potensi Desa Wisata Tongging setelah adanya pelatihan dari Kemenparekraf.

3. Tarian apa yang ditampilkan Gisitales?

Profil Jadesta menyebut Gisitales menampilkan tarian khas Karo, Batak Toba, dan Simalungun yang dibawakan oleh pelajar muda.

4. Apakah wisatawan bisa belajar menari di Gisitales?

Menurut informasi Jadesta, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan sekaligus belajar bersama penari Gisitales. Sebaiknya hubungi pengelola terlebih dahulu untuk memastikan ketersediaan kegiatan.

5. Apakah Gisitales pernah tampil di Karo Music Camp?

Ya. Gisitales tercatat terlibat dalam Karo Music Camp, termasuk tampil dalam Karo Music Camp 3.0 pada November 2023.