Kalau mendengar nama Tongging, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan Danau Toba, Air Terjun Sipiso-piso, atau jalan berkelok dengan panorama pegunungan.
Padahal, ada sisi lain desa ini yang cukup menarik untuk dijelajahi: kehidupan pertanian masyarakatnya.
Agrowisata Desa Tongging di kawasan Danau Toba menawarkan kesempatan melihat bagaimana ladang, hasil pertanian, kuliner, dan aktivitas warga dapat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.
Indonesia Travel mencatat bercocok tanam merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat di kawasan Tongging dan Merek. Petani setempat pun mulai terbuka terhadap aktivitas wisata tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama mereka.
Potensinya cukup besar karena Tongging tidak berdiri sebagai desa pertanian biasa.
Lokasinya berada tepat di ujung utara Danau Toba dan telah terdaftar di Jadesta Kementerian Pariwisata sebagai Desa Wisata Tongging, bahkan masuk 500 Besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024.
Jadi, wisatawan bisa menikmati pemandangan sambil mengenal kehidupan masyarakat yang menghasilkan bahan pangan dari tanah di sekeliling danau.
Tongging Bukan Hanya Desa Wisata Danau
Keindahan alam memang menjadi magnet utama Tongging. Dari kawasan ini, wisatawan dapat menikmati Danau Toba dengan latar perbukitan yang mengelilinginya. Tak jauh dari desa juga terdapat Air Terjun Sipiso-piso dan berbagai destinasi alam di Kecamatan Merek.
Namun kalau hanya datang untuk mengambil foto lalu pulang, rasanya ada bagian penting Tongging yang terlewat.
Pertanian merupakan salah satu wajah kehidupan masyarakat setempat. Ladang-ladang berada di antara perbukitan dan permukiman sehingga kegiatan bertani menyatu dengan lanskap desa.
Inilah modal dasar agrowisata.
Wisatawan tidak memerlukan wahana buatan yang rumit. Melihat petani bekerja, mengenal tanaman, ikut ke kebun, mendengar cerita musim tanam, hingga mencicipi hasil pertanian sebenarnya sudah dapat menjadi pengalaman menarik.
Penelitian Universitas Sumatera Utara mengenai perencanaan agrowisata Tongging bahkan melihat desa ini sebagai tempat yang dapat menggabungkan potensi wisata alam, budaya, hasil alam, dan kuliner dalam satu konsep kawasan wisata.
Ladang Bawang Merah Menjadi Daya Tarik Utama
Salah satu tanaman yang paling identik dengan pertanian Tongging adalah bawang merah.
Indonesia Travel menggambarkan hamparan ladang bawang merah sebagai pemandangan yang lazim ditemui ketika berkunjung ke Desa Tongging. Dalam liputan tersebut, petani lokal Dewi Silalahi dan Rusliana Manjorong diceritakan mengelola kebun yang dapat dipanen sekitar dua bulan sekali.
Bagi warga perkotaan, melihat bawang merah tumbuh mungkin terdengar sederhana. Tetapi justru kesederhanaan itu yang menarik.
Banyak orang mengenal bawang hanya ketika sudah berada di pasar atau dapur. Di Tongging, pengunjung berpotensi melihat prosesnya dari lahan: bagaimana tanah dipersiapkan, tanaman dirawat, hingga bawang dipanen.
Pengalaman ini bisa dibuat lebih interaktif.
Jika petani dan pengelola wisata mengaturnya dengan baik, pengunjung dapat diajak berjalan di sisi kebun, mengenali tanaman yang siap panen, mendengar penjelasan petani, atau mencoba aktifitas sederhana tanpa mengganggu tanaman.
Dengan begitu, kebun tidak berubah menjadi taman hiburan. Kehidupan pertanian yang asli justru menjadi daya tariknya.
Wisata Petik Jeruk Bisa Melengkapi Perjalanan
Selain bawang merah, kawasan pertanian sekitar Merek juga dikenal dengan kebun jeruk.
Indonesia Travel mencatat adanya petani di kawasan tersebut yang membuka perkebunan jeruk kepada wisatawan. Pengunjung dapat masuk ke kebun, memetik buah, dan menikmati jeruk langsung di lokasi.
Harga yang tercantum dalam liputan tersebut merupakan harga pada saat artikel dibuat sehingga tentu perlu dikonfirmasi kembali jika ingin berkunjung sekarang.
Konsep wisata petik cukup cocok dikombinasikan dengan perjalanan ke Tongging.
Wisatawan bisa memulai hari dengan mengunjungi perkebunan di kawasan Merek, kemudian turun menuju Tongging untuk melihat ladang bawang merah dan menikmati Danau Toba.
Pengalaman perjalanan menjadi lebih beragam karena pengunjung tidak hanya berpindah dari satu spot foto ke spot berikutnya.
Mereka bertemu langsung dengan petani dan melihat bagaimana komoditas hortikultura yang selama ini dikenal sebagai produk Tanah Karo ditanam.
Kabupaten Karo memang masih menempatkan pertanian sebagai sektor strategis. Pemerintah daerah pada 2026 menyebut Karo sebagai salah satu produsen utama hortikultura Sumatera Utara, dengan komoditas unggulan antara lain wortel, kentang, tomat, dan bawang merah.
Dari Kebun ke Meja Makan di Tongging
Agrowisata akan terasa lebih lengkap kalau pengalaman tidak berhenti di kebun.
Salah satu kekuatan Tongging justru berada pada hubungan antara pertanian, perikanan, dan kuliner.
Indonesia Travel mencatat bawang merah hasil petani lokal digunakan sebagai bahan masakan di restoran kawasan Tongging. Di sisi lain, perairan Danau Toba menyediakan ikan yang menjadi bahan utama berbagai menu restoran di tepian danau.
Bayangkan alurnya.
Pagi hari wisatawan melihat kebun bawang. Siang hari mereka duduk di restoran tepi danau, kemudian menikmati ikan yang dimasak menggunakan bumbu dari hasil pertanian lokal.
Cerita makanan menjadi jauh lebih menarik ketika kita tahu dari mana bahannya berasal.
Jadesta juga mencantumkan wisata kuliner pinggir Danau Toba sebagai salah satu potensi Tongging, bersama pusat oleh-oleh bawang goreng dan sambal andaliman bubuk. Bahkan produk Bawang Goreng Naraja tercatat sebagai salah satu suvenir Desa Wisata Tongging.
Artinya, rantai dari kebun menuju produk wisata sebenarnya mulai terlihat.
Agrowisata Bisa Memberi Penghasilan Tambahan bagi Petani
Konsep agrowisata tidak berarti petani harus berhenti bertani lalu berubah menjadi pengelola tempat wisata.
Justru model yang sehat adalah menjadikan pertanian tetap sebagai kegiatan utama.
Wisata menjadi sumber pendapatan tambahan.
Misalnya, wisatawan dapat membayar pengalaman kunjungan kebun, membeli hasil panen langsung, membeli produk olahan, atau memesan makanan yang menggunakan bahan lokal.
Pendapatan dari wisata kemudian tersebar ke petani, pemandu, pengolah makanan, transportasi lokal, hingga UMKM desa.
Indonesia Travel juga menggambarkan pola tersebut di kawasan Tongging dan Merek: petani serta nelayan tetap menjalankan pekerjaan mereka sambil mulai ikut dalam kegiatan sadar wisata.
Model seperti ini menarik karena keaslian desa tetap terjaga.
Wisatawan datang bukan untuk melihat desa yang dibuat-buat menyerupai kawasan pertanian, tetapi melihat pertanian yang memang menjadi bagian kehidupan masyarakat.
Potensi Paket Wisata “Sehari Menjadi Warga Tongging”
Pengembangan berikutnya bisa dilakukan melalui paket wisata berbasis pengalaman.
Desa Wisata Tongging saat ini telah memiliki paket wisata Mardalani Hu Huta Tongging dalam direktori Jadesta. Selain itu terdapat atraksi alam, budaya seperti Sanggar Tari Gisitales, paralayang, kuliner, dan produk oleh-oleh lokal.
Potensi pertanian dapat dimasukkan ke dalam ekosistem tersebut.
Dari Ladang hingga Danau
Misalnya, perjalanan pagi dimulai dengan berjalan menuju kebun bawang dan berbincang dengan petani. Pengunjung kemudian belajar tentang musim tanam dan mencoba kegiatan ringan sesuai kondisi kebun.
Siang hari dilanjutkan dengan menikmati kuliner hasil Danau Toba.
Sore hari wisatawan dapat melihat kegiatan budaya, berjalan di desa, membeli bawang goreng lokal, lalu menikmati matahari turun di balik perbukitan.
Konsep seperti ini membuat orang mempunyai alasan tinggal lebih lama.
Bukan hanya “datang–foto–pulang”, tetapi benar-benar mengenal kehidupan desa.
Edukasi Pertanian Bisa Menjadi Nilai Tambah
Agrowisata juga punya potensi besar untuk wisata keluarga dan pelajar.
Anak-anak yang hidup di kota jarang melihat dari mana makanan sebenarnya berasal. Kunjungan ke Tongging dapat digunakan untuk memperkenalkan proses pertanian secara sederhana.
Mereka bisa melihat bawang tumbuh, mengenali jenis tanaman, memahami pentingnya air, tanah, pupuk, dan cuaca, lalu belajar bahwa menghasilkan satu kilogram bahan pangan membutuhkan proses panjang.
Itulah yang membedakan agrowisata dengan sekadar spot foto.
Ada unsur edukasi.
Bagi mahasiswa atau komunitas, kegiatan dapat dibuat lebih mendalam, misalnya diskusi mengenai pertanian dataran tinggi, pengembangan desa wisata, pemasaran hasil panen, hingga hubungan pertanian dengan ekosistem Danau Toba.
Studi tentang perencanaan agrowisata Tongging sudah sejak 2018 menunjukkan adanya peluang untuk menggabungkan hasil alam, wisata kuliner, budaya, dan lingkungan dalam perancangan wisata desa.
Tantangan Agrowisata Tongging
Potensi besar tidak otomatis membuat agrowisata berkembang dengan sendirinya. Jadesta saat ini masih mengklasifikasikan Desa Wisata Tongging sebagai kategori Rintisan.
Profilnya juga mengakui bahwa pengelolaan potensi wisata belum berjalan maksimal, meskipun keterlibatan generasi muda melalui Pokdarwis mulai didorong untuk menghidupkan kembali pariwisata yang lebih berkelanjutan.
Pertanian pun memiliki tantangan tersendiri.
Pemkab Karo menyebut ketidakpastian iklim, infrastruktur jalan usaha tani, jaringan irigasi, teknologi, hilirisasi, dan akses pasar sebagai beberapa persoalan yang perlu diperkuat dalam pembangunan pertanian daerah.
Dalam konteks wisata, pengelolan juga perlu hati-hati.
Terlalu banyak pengunjung yang masuk sembarangan ke kebun bisa merusak tanaman. Karena itu, jalur kunjungan, jumlah peserta, waktu kunjungan, keselamatan, dan pembagian manfaat kepada petani perlu dirancang sejak awal.
Agrowisata yang baik harus menguntungkan petani, bukan justru merepotkan mereka.
Peluang Tongging Semakin Besar dengan Konektivitas Danau Toba
Tongging juga sedang berada dalam posisi menarik karena pemerintah mendorong peningkatan konektivitas kawasan.
Pada Maret 2026, Pemkab Karo mengusulkan pengembangan Dermaga Tongging agar dapat melayani kapal feri yang mengangkut kendaraan menuju Samosir.
Pemerintah daerah menyebut kawasan Tongging menerima rata-rata sekitar 200.000 kunjungan wisatawan per tahun dan berharap konektivitas baru dapat memperpanjang lama tinggal wisatawan. Rencana tersebut masih berada dalam proses kajian dan persiapan teknis.
Jika akses semakin baik, peluang agrowisata ikut membesar.
Wisatawan yang sebelumnya hanya melewati Tongging dapat diarahkan menuju kebun, sentra kuliner, sanggar budaya, dan UMKM sebelum melanjutkan perjalanan.
Kuncinya adalah membuat pertanian masuk dalam cerita besar perjalanan Danau Toba.
Tongging tidak hanya menjadi gerbang menuju danau, tetapi tempat orang memahami bagaimana masyarakat hidup dari alam di sekelilingnya.
Agrowisata Desa Tongging di kawasan Danau Toba memiliki modal yang sangat menarik karena pertanian memang menjadi bagian nyata kehidupan masyarakat.
Ladang bawang merah, kebun di kawasan Merek, kuliner berbahan lokal, produk bawang goreng, budaya, dan panorama Danau Toba dapat dikembangakan menjadi satu pengalaman perjalanan yang utuh.
Tantangannya adalah membuat wisata berkembang tanpa mengganggu pekerjaan petani dan lingkungan desa.
Jika dikelola bersama masyarakat, agrowisata dapat membuka penghasilan tambahan sekaligus memperkenalkan kehidupan pertanian Karo kepada pengunjung. Saat berkunjung ke Tongging nanti, jangan hanya melihat ke arah danau.
Coba berjalan lebih dekat ke ladang, berbicara dengan petani, membeli produk lokal, dan melihat secara langung bagaimana kehidupan desa berjalan. Bisa jadi, pengalaman sederhana itu justru menjadi bagian perjalanan yang paling diingat.
FAQ
1. Apa yang menarik dari agrowisata di Tongging?
Daya tarik utamanya adalah kehidupan pertanian yang berpadu dengan panorama Danau Toba. Ladang bawang merah, aktivitas petani, kuliner lokal, dan produk olahan dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata.
2. Apa hasil pertanian yang terkenal di Tongging?
Bawang merah merupakan salah satu yang paling menonjol. Indonesia Travel mencatat hamparan kebun bawang merah sebagai pemandangan yang lazim dijumpai di Tongging.
3. Apakah ada wisata petik buah di sekitar Tongging?
Ada pengalaman wisata kebun jeruk yang pernah didokumentasikan Indonesia Travel di kawasan Merek dan sekitarnya. Ketersediaan, jadwal, dan harga terbaru sebaiknya dikonfirmasi kepada pengelola lokal sebelum berkunjung.
4. Apakah Tongging sudah menjadi desa wisata?
Ya. Tongging tercatat resmi di Jadesta Kementerian Pariwisata sebagai Desa Wisata kategori Rintisan dan masuk 500 Besar ADWI 2024.
5. Apa oleh-oleh pertanian yang bisa dicari di Tongging?
Salah satunya adalah bawang goreng. Jadesta mencatat Bawang Goreng Naraja sebagai produk suvenir Desa Wisata Tongging, sementara profil desa juga menyebut bawang goreng dan sambal andaliman sebagai oleh-oleh lokal.