Datang ke Tongging pada pagi hari memberi pemandangan yang berbeda dari panorama Danau Toba yang biasa terlihat di media sosial.
Selain bukit dan hamparan air, kita bisa melihat perahu, keramba, hingga aktivitas warga yang menggantungkan sebagian penghasilannya pada ikan. Perikanan Desa Tongging di Danau Toba memang menjadi salah satu bagian penting kehidupan ekonomi lokal.
Posisi desa yang langsung bersentuhan dengan perairan membuat masyarakat memiliki peluang besar mengembangkan budidaya ikan air tawar sekaligus memanfaatkan hasilnya untuk usaha kuliner.
Data BPS menunjukkan besarnya peranan tersebut. Pada 2023, produksi ikan air tawar Desa Tongging tercatat mencapai 1.067 ton, sementara total produksi Kecamatan Merek sebesar 1.098,9 ton.
Ini menunjukkan bahwa sebagian besar produksi ikan air tawar yang tercatat di kecamatan tersebut berasal dari Tongging. Di balik potensi besar itu, ada pula tantangan lingkungan.
Perikanan di Tongging harus berkembang tanpa mengorbankan kualitas air Danau Toba yang juga menjadi sumber kehidupan dan aset pariwisata.
Perikanan Sudah Menjadi Bagian dari Kehidupan Tongging
Tongging mempunyai karakter yang cukup unik. Masyarakat hidup di antara lahan pertanian dan perairan Danau Toba.
Di darat, bawang merah dan berbagai hasil hortikultura menjadi sumber ekonomi. Sementara itu, di bagian danau, masyarakat mengembangkan perikanan air tawar.
Indonesia Travel mencatat adanya aktivitas memancing serta budidaya melalui Keramba Jaring Apung (KJA) milik warga Tongging. Hasilnya kemudian dipasarkan ke berbagai daerah dan sebagian digunakan oleh restoran yang berkembang di tepian danau.
Artinya, ikan bukan hanya makanan sehari-hari.
Perikanan membentuk rantai ekonomi yang melibatkan pembudidaya, pekerja keramba, pedagang, pengangkut ikan, pemilik restoran, hingga sektor pariwisata.
Kondisi seperti inilah yang membuat perikanan Tongging menarik. Satu aktivitas produksi dapat berhubungan dengan banyak jenis pekerjaan lainnya.
Produksi Ikan Tongging Mencapai Lebih dari Seribu Ton
Salah satu data yang paling menarik datang dari Kecamatan Merek Dalam Angka 2024.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karo yang dimuat BPS, produksi ikan air tawar Desa Tongging pada 2023 mencapai 1.067 ton.
Angka itu jauh lebih tinggi dibanding Kodon-Kodon sebesar 7,8 ton, Sibolangit 13,7 ton, Dokan 8,9 ton, dan Ajinembah 0,73 ton.
Total produksi ikan air tawar Kecamatan Merek pada tahun yang sama tercatat 1.098,9 ton.
Data ini memperlihatkan betapa kuatnya posisi Tongging dalam kegiatan perikanan di tingkat kecamatan.
Tentu angka produksi tidak selalu sama setiap tahun. Kondisi cuaca, jumlah keramba, kualitas air, harga pakan, penyakit ikan, hingga kebijakan pengelolan Danau Toba dapat memengaruhi hasil budidaya.
Tetapi produksi lebih dari seribu ton memberi gambaran bahwa kegiatan perikanan di desa ini bukan usaha kecil yang sekadar memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Keramba Jaring Apung Menjadi Bagian Penting Budidaya
Kalau berkunjung ke tepian Danau Toba di Tongging, salah satu bentuk usaha yang mudah dikenali adalah Keramba Jaring Apung.
KJA pada dasarnya merupakan wadah budidaya berupa jaring yang ditempatkan mengapung di perairan. Ikan dipelihara di dalamnya sampai mencapai ukuran tertentu sebelum dipanen.
Penelitian Universitas Riau tentang Tongging mencatat bahwa budidaya ikan air tawar menggunakan KJA telah berkembang di desa tersebut. Penelitian yang terbit pada 2020 itu menyebut ikan mas dan nila sebagai komoditas budidaya yang penting.
Kajian sebelumnya dari Universitas Negeri Medan juga secara khusus meneliti keberadaan keramba ikan di Desa Tongging dan hubungannya dengan pariwisata Danau Toba.
Budidaya KJA menarik karena masyarakat tidak membutuhkan kolam darat yang luas.
Perairan danau menjadi media produksi. Namun justru karena menggunakan ekosistem bersama, cara pengelolaannya harus lebih hati-hati.
Ikan Nila dan Ikan Mas Menjadi Komoditas Penting
Dua jenis ikan yang sering muncul ketika membicarakan budidaya Tongging adalah ikan nila dan ikan mas.
Penelitian mengenai pengembangan pariwisata Tongging mencatat kedua ikan tersebut dipelihara melalui keramba dan kemudian masuk ke pasar maupun usaha kuliner lokal.
Keduanya memang cocok dengan kebiasaan konsumsi masyarakat sekitar Danau Toba.
Ikan nila mudah dijumpai sebagai ikan bakar atau goreng. Sementara ikan mas memiliki posisi kuat dalam berbagai sajian tradisional di Sumatera Utara.
Penelitian tersebut bahkan mencatat ikan mas arsik dan nila bakar sebagai menu andalan wisata kuliner Tongging, dengan bahan utama yang dapat diperoleh dari usaha budidaya setempat.
Inilah salah satu keuntungan besar yang dimiliki Tongging.
Hasil budidaya tidak selalu harus dikirim jauh ke kota. Sebagian dapat memperoleh nilai tambah langsung di desa melalui restoran dan usaha makanan.
Dari Keramba Masuk ke Restoran Terapung
Hubungan antara perikanan dan wisata terlihat jelas di Tongging.
Indonesia Travel menggambarkan restoran terapung sebagai bagian dari pengalaman wisata desa. Restoran-restoran tersebut menyajikan hasil perairan, termasuk ikan yang diproduksi atau diperoleh dari kawasan sekitar Danau Toba.
Situs resmi pariwisata Indonesia juga menempatkan restoran terapung Tongging dan menu ikan bakar sebagai salah satu pengalaman yang dapat dicoba ketika menjelajahi kawasan Danau Toba.
Rantai ekonominya cukup menarik.
Pembudidaya memelihara ikan, lalu hasil panen dapat dibeli pedagang atau restoran. Setelah diolah, ikan yang sebelumnya merupakan komoditas mentah berubah menjadi hidangan bernilai lebih tinggi.
Wisatawan yang datang karena ingin melihat Danau Toba akhirnya ikut memberikan pemasukan kepada sektor perikanan.
Inilah alasan mengapa masa depan perikanan Tongging tidak harus hanya berbicara tentang meningkatkan jumlah produksi. Hilirisasi lewat kuliner justru bisa memberikan nilai ekonomi tambahan.
Perikanan Tangkap Tetap Menjadi Bagian Ekosistem Danau Toba
Selain budidaya, Danau Toba juga memiliki kegiatan perikanan tangkap.
Penelitian Kementerian Kelautan dan Perikanan mengenai zonasi ekosistem Danau Toba menjelaskan adanya dua kegiatan utama, yaitu perikanan tangkap dan budidaya menggunakan KJA.
Salah satu ikan yang memiliki sejarah penting dalam perikanan tangkap danau adalah ikan bilih atau yang juga dikenal masyarakat sebagai pora-pora.
Ikan bilih diperkenalkan ke Danau Toba pada 2003 dan kemudian berkembang menjadi salah satu sumber daya perikanan penting di perairan tersebut.
Namun data tersebut menggambarkan Danau Toba secara keseluruhan, bukan khusus jumlah tangkapan nelayan Desa Tongging.
Perbedaan ini penting.
Budidaya dan penangkapan ikan liar membutuhkan pendekatan pengelolaan yang berbeda. Keduanya sama-sama dapat memberi manfaat ekonomi, tetapi harus disesuaikan dengan kemampuan ekosistem danau.
Tantangan Besarnya Ada pada Kualitas Air
Perikanan memberikan pendapatan, tetapi Danau Toba bukan kolam budidaya biasa.
Danau ini juga berfungsi untuk pariwisata, sumber air, transportasi, ekosistem alami, dan berbagai kegiatan masyarakat. Karena itu, aktivitas KJA harus mempertimbangkan daya dukung lingkungan.
Kajian KKP mengenai zonasi Danau Toba menyebut perikanan budidaya sebagai salah satu kegiatan yang harus dikelola secara terpadu bersama fungsi danau lainnya.
Limbah domestik, peternakan, pariwisata, hingga sisa kegiatan budidaya dapat bersama-sama meningkatkan tekanan terhadap kualitas perairan.
Penelitian tentang keramba di Tongging juga pernah menyoroti masalah sisa pakan dan pengaruh keberadaan KJA terhadap kualitas lingkungan serta visual kawasan wisata.
Masalahnya sederhana untuk dipahami.
Tidak semua pakan yang ditebar akan dimakan ikan. Sebagian dapat tenggelam bersama kotoran ikan dan menambah bahan organik di dasar perairan.
Kalau jumlah keramba terlalu padat dan pemberian pakan tidak efisien, tekanan terhadap danau ikut meningkat.
Karena itu, perikanan berkelanjutan bukan berarti melarang masyarakat membudidayakan ikan. Yang dibutuhkan justru pengaturan jumlah keramba, lokasi yang tepat, kepadatan ikan, kualitas pakan, serta pemantauan air secara konsisten.
Risiko Kematian Ikan Juga Harus Diperhitungkan
Pembudidaya ikan hidup dengan risiko yang kadang tidak terlihat oleh wisatawan.
Perubahan kualitas air dapat terjadi dengan cepat. Dalam perairan danau atau waduk, perubahan suhu dan pergerakan massa air tertentu bisa menyebabkan berkurangnya oksigen sehingga ikan di keramba mengalami stres bahkan kematian.
Kawasan Danau Toba sendiri pernah mengalami kejadian kematian ikan massal di sejumlah lokasi, termasuk catatan kejadian di sekitar Tongging pada masa lalu.
Karena itu, studi dan kebijakan perikanan menekankan pentingnya memperhatikan daya dukung serta kondisi perairan.
Bagi pembudidaya, risiko seperti ini berhubungan langsung dengan ekonomi keluarga.
Benih, pakan, tenaga, dan waktu yang sudah dikeluarkan selama berbulan-bulan dapat hilang dalam waktu singkat.
Pemantauan oksigen terlarut, temperatur, cuaca, kepadatan ikan, serta tanda-tanda perubahan kondisi air menjadi semakin penting dalam budidaya modern.
Peluang Pengembangan Perikanan Tongging
Potensi berikutnya tidak selalu berasal dari menambah jumlah keramba.
Tongging justru bisa memperoleh nilai lebih besar melalui peningkatan nilai hasil ikan.
Ikan segar dapat dipasarkan dengan rantai dingin yang lebih baik. UMKM bisa mengembangkan produk olahan, sementara restoran dapat memperkuat identitas menu lokal dengan menonjolkan asal ikan dari Tongging.
Sektor wisata juga membuka peluang lain.
Wisatawan dapat diperkenalkan pada kehidupan pembudidaya ikan, melihat keramba dari jarak aman, mengenal proses pemeliharaan, lalu menikmati hasilnya di restoran.
Konsep seperti ini membuat aktifitas perikanan menjadi bagian dari pengalaman wisata tanpa mengubah pekerjaan warga menjadi pertunjukan semata.
Indonesia Travel sudah menggambarkan hubungan kuat antara petani, nelayan, keramba, restoran, dan pariwisata di desa ini.
Jika dikelola dengan baik, perikanan dan pariwisata tidak harus bersaing.
Keduanya justru bisa saling mendukung selama kualitas Danau Toba tetap menjadi prioritas.
Menjaga Danau Berarti Menjaga Mata Pencaharian
Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: seluruh kegiatan perikanan Tongging bergantung pada kondisi Danau Toba.
Jika air danau sehat, ikan dapat tumbuh, wisatawan tetap tertarik datang, dan masarakat memperoleh manfaat ekonomi. Sebaliknya, kerusakan kualitas air akan berdampak ke banyak sektor sekaligus.
Karena itu, keberlanjutan perikanan bukan hanya urusan pemerintah atau pembudidaya.
Restoran perlu mengelola limbah, warga perlu menjaga kebersihan, wisatawan tidak membuang sampah sembarangan, dan pelaku KJA harus menggunakan praktik budidaya yang bertanggung jawab.
Penelitian KKP menekankan bahwa pemanfaatan Danau Toba yang melibatkan banyak sektor membutuhkan pengelolaan ruang dan sumber daya secara terpadu.
Prinsipnya sederhana: mengambil manfaat dari danau sambil tetap memastikan danau mampu memberikan manfaat untuk generasi berikutnya.
Perikanan Desa Tongging di Danau Toba merupakan salah satu kekuatan ekonomi desa yang sering kalah populer dibanding pemandangan alamnya.
Data 2023 menunjukkan produksi ikan air tawar Tongging mencapai 1.067 ton, memperlihatkan besarnya peran desa tersebut dalam produksi perikanan Kecamatan Merek.
Keramba, ikan nila dan mas, restoran terapung, serta wisata kuliner membentuk rantai ekonomi yang saling berkaitan. Namun masa depan sektor ini sangat bergantung pada kemampuan menjaga kualitas air Danau Toba.
Kalau berkunjung ke Tongging, jangan hanya menikmati panorama danau. Cobalah mencicipi ikan lokal, melihat kehidupan pembudidaya, dan mengenal perjalanan ikan dari keramba hingga meja makan.
Dari sana kita bisa melihat bahwa Danau Toba bukan hanya indah, tetapi juga menghidupi banyak keluarga.
FAQ
1. Berapa produksi ikan Desa Tongging?
BPS mencatat produksi ikan air tawar Desa Tongging pada 2023 mencapai 1.067 ton. Total Kecamatan Merek pada tahun yang sama adalah 1.098,9 ton.
2. Ikan apa yang dibudidayakan di Tongging?
Penelitian tentang kegiatan budidaya Tongging mencatat ikan nila dan ikan mas sebagai dua jenis ikan yang dikembangkan melalui Keramba Jaring Apung.
3. Apa itu Keramba Jaring Apung?
Keramba Jaring Apung atau KJA adalah sistem budidaya menggunakan jaring yang ditempatkan mengapung di perairan. Sistem ini banyak digunakan untuk memelihara ikan air tawar di danau atau waduk.
4. Apa hubungan perikanan dengan wisata Tongging?
Hasil ikan dari kawasan Tongging digunakan dalam usaha kuliner, termasuk restoran terapung. Ikan bakar dan berbagai olahan ikan menjadi bagian dari pengalaman wisata di tepian Danau Toba.
5. Apa tantangan utama perikanan Tongging?
Tantangannya meliputi kualitas air, kepadatan keramba, sisa pakan, perubahan kondisi perairan, risiko kematian ikan, serta kebutuhan menyeimbangkan budidaya dengan pariwisata dan kelestarian Danau Toba.